Home | General | Serumah dengan Pasien TBC? Sebaiknya Periksa Meski Tak Sakit
Serumah dengan Pasien TBC? Sebaiknya Periksa Meski Tak Sakit

Serumah dengan Pasien TBC? Sebaiknya Periksa Meski Tak Sakit

Artikel Serumah dengan Pasien TBC? Sebaiknya Periksa Meski Tak Sakit diterbitkan oleh pada January 2, 2018 dalam kategori General . Konten ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti atas saran atau rujukan yang diberikan oleh pekerja profesional. Para pembaca konten dengan judul Serumah dengan Pasien TBC? Sebaiknya Periksa Meski Tak Sakit, diharapkan tidak hanya bergantung secara eksklusif pada informasi Serumah dengan Pasien TBC? Sebaiknya Periksa Meski Tak Sakit ini saja untuk kebutuhan setiap individu.

Tertular kuman TBC tidak selalu langsung sakit dan batuk-batuk. Kadang, penyakitnya baru muncul beberapa bulan kemudian saat daya tubuhnya menurun atau infeksinya sudah parah. Karenanya, keluarga pasien TBC dianjurkan untuk periksa.

Kasus penularan kuman TB (Tuberculosis atau kerap juga disingkat TBC) sering ditemukan dalam satu keluarga. Karena tidak langsung menyebabkan sakit pada saat itu juga, penularan tersebut kadang baru bisa diketahui setelah melakukan pemeriksaan.pencegahan tbc

“Ada, kita anjurkan. Jadi kalau pada orang dewasa kita anjurkan untuk periksa, istilahnya kontak serumah. Kalau anak-anak, dirujuk ke poli anak,” jelas dr Elizabeth Ratnawati, koordinator Program TB Puskesmas Tebet, Jakarta Selatan kepada wartawan, Jumat (12/4/2013).

Kuman TB mudah sekali menular melalui droplet atau bercak dahak yang keluar saat batuk, lalu terhisap oleh orang lain. Bila tidak diobati, pasien TB dengan status BTA (Basil Tahan Asam) positif bisa menularkan kuman sedikitnya ke 10-15 orang dalam setahun.

Seseorang yang tertular TB belum tentu akan langsung sakit. Kuman yang masuk ke dalam tubuh bisa saja tetap diam dalam kondisi tidak aktif (dormant) hingga bertahun-tahun, membentuk selubung dan baru aktif saat daya tahan tubuh orang tersebut menurun.

Kondisi seperti ini menyebabkan fenomena sakit bergantian dalam satu keluarga. Seperti yang sering ditemui dr Elizabeth di Puskesmas Tebet, kadang-kadang ada pasien yang berobat dan begitu sembuh gantian anak atau istrinya yang batuk-batuk.

“Jadi kadang pasiennya sembuh, gantian keluarganya sakit batuk. Setelah diperiksa, positif dahaknya. Tapi itu nggak banyak, nggak sampai 10 persen,” tambah dr Elizabeth.

Dengan pengobatan yang benar, penularan kuman TB sebenarnya sangat mudah untuk dikendalikan. Umumnya dalam 2 bulan pertama pengobatan (dari total sekitar 6 bulan), kuman sudah berada dalam kondisi tidak aktif dan tidak mudah ditularkan oleh pasien ke orang-orang di lingkungannya.

About Hety Ira Susanti

Seorang ibu rumah tangga yang punya hobi nulis di blog :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>